Laman

Mari Menghafal Al-Qur'an

2 komentar

Al-qur’an adalah kalamullah yang di dalamnya terdapat kisah-kisah orang terdahulu sebagai cerminan bagi umat yang akan datang, terdapat hukum-hukum Allah untuk melaksanakan syariatNya serta hal-hal yang luar biasa lainnya, monggo di baca aja sendiri. Akan lebih baik lagi jika kita sebagai umat Nabi Muhammad menghafalkannya semampu kita, sebab kedudukan kita di surga sebanyak hafalan kita. Lagipula kan nggak enak tuh jika sementara shalat hanya itu itu saja yang terus dibaca terutama yang tidak terlewatkan three Qul (Qul Huwallahu ahad, Qul ‘adzubirabbinnas, Qul ‘audzubirabbil falaq) sudah tidak zamannya lagi saudaraku. Jangan jadi orang pelit dermawanlah sedikit. Di bawah ini ada beberapa tips dalam mempermudah menghafal Kitab Allah.

1. Niat Harus Ikhlas

Ikhlas dalam menghafal Al Qur’an itu sangat diperlukan soalnya ikhlas merupakan salah satu syarat diterimanya ibadah seseorang. Lakukan hal tersebut bukan karena mau di puji, disanjung, dipamer, tapi niatkan semua itu karena Allah, jadi amalan yang kita lakukan tidak sia-sia.

2. Berdoa dan Berusaha Dengan Keras Menghindari Maksiat

Jangan lupa berdoa kepada yang Maha Memudahkan Segala Sesuatu untuk dimudahkan nikmatnya menghafal Al-Qur’an. Selain itu bertekad dengan sungguh-sungguh untuk melakukannya, jangan menyerah sebelum di coba. Mengenai maksiat, Ad Dhahak bin Muzahim berkata “Tidaklah seseorang mempelajari Al-Qur’an lalu ia lupa akan hafalannya, melainkan karena dosa yang dilakukannya.” 

3. Cari Halaqah-Halaqah Belajar Ilmu Tajwid

Maksudnya halaqah adalah gabung dalam sebuah kelompok agar lebih memudahkan bagi kalian untuk lebih mantap lagi dalam menghafal. Selain karena akan ada yang membimbingkan kalian dari kesalahan makhroj (Tempat keluarga bunyi huruf) juga kalian akan mempelajari ilmu tajwid. Belajarnyapun lebih dinamis karena akan ada saudara-saudara kita juga yang lainnya, sehingga semangat dan keistiqomahan kita dapat terjaga. Sebab akan ada rasa solidaritas untuk saling menasehati sehingga semangat akan lebih bergairah.

4. Shalat Dengan Bacaan yang Telah Dihafal

Ini gunanya agar hafalan yang telah di hafal tidak mudah hilang karena terus dilantunkan dalam sholat-shalat kita dan sholat kita pun lebih enak lagi soalnya bacaannya tidak monoton yang akibatnya sholat terasa gersang. 

5. Gunakan Satu Mushaf

Ini juga hal yang penting jangan diremehkan sebab otak kita akan mengingat-ingat letak dan susunan dari ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak semua tata letak dalam Al-Qur’an sama justru berbeda, gonta-ganti mushaf berefek kurang baik pada hafalan. 

6. Memahami dan Mengamalkan Isi Al-Qur’an

Ayat-ayat yang kita baca harus dipahami dan diamalkan, jangan asal hafal saja. Contohnya jika ada ayat yang menjelaskan tentang kewajiban memakai jilbab maka kita wajib memakainya, atau perintah beramar ma’ruf nahi mungkar maka harus dilaksanakan pula. 

7. Manfaatkan Usia Muda Kita

Menurut penelitian bahwa usia produktif untuk menghafal lebih baik yaitu sejak kanak-kanak sampai berkisar kurang lebih 23 tahun, usia seperti ini power hafalannya lebih kuat. Tapi ini bukan berarti usia lebih dari itu tidak bisa lagi menghafal, ini hanya sebuah perbandingan. Intinya siapa yang tekun dan rajin akan menuai manfaat yang besar baik usia muda maupun usia lanjut. 

“Sebenarnya Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat kami.” (QS Al-Ankabut : 49)

Jilbab Menurut Islam, Kristen dan Yahudi: Mitos dan Realita

3 komentar


Marilah kita buka suatu persoalan yang di negara-negara Barat dianggap sebagai simbol dari penindasan dan perbudakan wanita, yaitu jilbab atau tudung kepala. Apakah betul tidak terdapat pembahasan mengenai jilbab di dalam tradisi Jahudi-Kristen ? Mari kita lihat bukti catatan yang ada. Menurut Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Beliau disana mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: "Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala" dan "Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut isterinya terlihat," dan "Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan."

Hukum Rabbi melarang pemberian berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap "telanjang". Dr. Brayer juga mengatakan bahwa "Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut."



Dr. Brayer juga menerangkan bahwa jilbab bagi wanita Yahudi bukanlah selalu sebagai simbol dari kesopanan. Kadang-kadang, jilbab justru menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya ketimbang ukuran kesopanan. Jilbab atau tudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Jilbab juga diartikan sebagai penjagaan terhadap hak milik suami.

Jilbab menunjukkan suatu penghormatan dan status sosial dari seorang wanita. Seorang wanita dari golongan bawah mencoba menggunakan jilbab untuk memberikan kesan status yang lebih tinggi. Jilbab merupakan tanda kehormatan. Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal 237). Wanita-wanita Yahudi di Eropa melanjutkan menggunakan jilbab sampai abad ke sembilan belas hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Tekanan eksternal dari kehidupan di Eropa pada abad sembilan belas memaksa banyak dari mereka pergi keluar tanpa penutup kepala.

Beberapa wanita Yahudi kemudian lebih cenderung menggantikan penutup tradisional mereka dengan rambut palsu sebagai bentuk lain dari penutup kepala. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang saleh tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239). Sementara beberapa dari mereka. seperti sekte Hasidic, masih menggunakan rambut palsu (Alexandra Wright, 19??, hal 128-129).

Bagaimanakah jilbab menurut tradisi Kristen?

Kita sendiri menyaksikan sampai hari ini bahwa para Biarawati Katolik menutup kepalanya yang suruhannya sebetulnya telah ada semenjak empat ratus tahun yang lalu. Tetapi bukan hanya itu, St. Paul (atau Paulus) dalam Perjanjian Baru, I Korintus 11:3-10, membuat pernyataan-pernyataan yang menarik tentang jilbab sebagai berikut: "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala Kristus adalah Allah. Tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga mengguting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan dicipt akan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena malaikat". (I Korintus 11:3-10).

St. Paul memberikan penalaran tentang wanita yang berjilbab atau berkerudung adalah bahwa jilbab memberikan tanda kekuasaan pada laki-laki, yang merupakan gambaran kebesaran Tuhan, atas wanita yang diciptakan dari dan untuk laki-laki. St. Tertulian di dalam risalahnya "On The Veiling Of Virgins" menulis: "Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu."

Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning, 1974, hal 272). Beberapa golongan Kristen, seperti Amish dan Mennoties contohnya, mereka hingga hari ini tetap mengenakan tutup kepala. Alasan mereka mengenakan tutup kepala, seperti yang dikemukakan pemimpin gerejanya adalah: "Penutup kepala adalah simbol dari kepatuhan wanita kepada laki-laki dan Tuhan," logika yang sama seperti yang ditulis oleh St. Paul dalam Perjanjian Baru (D. Kraybill, 1960, hal 56).

Dari semua bukti-bukti di atas, nyata bahwa Islam bukanlah agama yang mengada-adakan dan mewajibkan penutup kepala, tetapi Islam telah mendukung hukum tersebut. Al Qur'an memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan yang beriman untuk menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Juga memerintahkan wanita beriman agar memanjangkan penutup kepalanya sampai menutupi leher dan dadanya.

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat..... Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya..." (An Nuur:30,31)

Di dalam Al Qur'an jelas tertulis bahwa kerudung sangat penting untuk menutup aurat. Mengapa aurat itu penting ? Hal itu dijelaskan dalam Al Qur'an surat Al Ahzab 59: "Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu." (Al Ahzab:59)

Pada intinya, kesederhanaan digambarkan untuk melindungi wanita dari gangguan atau mudahnya, kesederhanaan adalah perlindungan.

Jadi, tujuan utama dari jilbab atau kerudung di dalam Islam adalah perlindungan. Kerudung di dalam Islam tidak sama seperti di dalam tradisi Kristen dimana merupakan tanda bahwa martabat laki-laki berada di atas wanita dan merupakan simbolisasi tunduknya wanita terhadap laki-laki. Kerudung di dalam Islam juga bukan seperti di dalam tradisi Yahudi dimana kerudung merupakan tanda keagungan dan tanda pembeda sebagai wanita bangsawan yang menikah. Kerudung di dalam Islam hanya sebagai tanda kesederhanaan dengan tujuan melindungi wanita, tepatnya semua wanita. Pada falsafah Islam dikenali prinsip bahwa selalu lebih baik menjaga daripada menyesal kemudian. Al Qur'an sangat
memperhatikan wanita dengan menjaga tubuh mereka dan kehormatan mereka atas pernyataan laki-laki yang berani menuduh ketidaksucian seorang wanita, mereka akan mendapat balasan;

"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (mereka yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An Nuur 4)

Bandingkan sikap Al Qur'an yang sangat tegas, dengan hukuman yang sangat longgar bagi pemerkosa di dalam Injil:

"If a man find a damsel that is a virgin, which is not betrothed, and there was none to save her. Then the man that lay with her shall give unto the damsel's father fifty shekels of silver, and she shall be his wife; because he hath humbled her, he may not put her away all his days" (Deut. 22:28-29).

Terjemahannya:

"Jika seorang laki-laki menemui seorang gadis yang tidak dijanjikan untuk dinikahkan kemudian memperkosanya, dia harus membayar sebesar lima puluh shekels perak kepada ayah gadis itu. Laki-laki itu harus menikahi gadis tersebut karena perbuatannya dan dia tidak boleh menceraikannya selama hidupnya" (Ulangan. 22:28-29).

Patut ditanyakan, siapa yang sebenarnya dihukum dalam hal ini? Orang yang membayar denda karena telah memperkosa ataukah gadis yang dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang memperkosanya dan harus tinggal bersamanya sampai dia mati ? Pertanyaan lainnya: Mana yang lebih melindung seorang wanita sikap tegas Al Qur'an atau sikap kendor moral (lax) daripada Injil ?

Beberapa kalangan, terutama di belahan negara-negara Barat, mungkin cenderung untuk menertawakan bahwa kesederhanaan (modesty) berguna untuk perlindungan. Alasan mereka adalah perlindungan yang terbaik yaitu memperluaskan pendidikan, berperilaku yang sopan, dan pengendalian diri. Kami akan mengatakan: semua itu baik tapi tidak cukup.

Jika tindakan yang ada dipandang perlindungan yang sudah cukup, lalu mengapa wanita-wanita di Amerika Utara saat ini tidak berani berjalan sendirian di kegelapan atau bahkan cemas melewati tempat parkir yang sepi ?. Jika pendidikan adalah suatu penyelesaian lalu mengapa Universitas Queen yang terkenal pelayanan pendidikannya terpaksa harus mengantar pulang para mahasiswi di dalam kampus ?. Jika pengendalian diri adalah jawabannya, lalu mengapa kasus pelecehan sex di tempat kerja diberitakan di media masa nyaris setiap hari ?. Contohnya, yang tertuduh melakukan pelecehan sex dalam beberapa tahun terakhir: para perwira Angkatan Laut, Manager-manager,
Professor-professor, Senators, Pengadilan Tinggi (Supreme Court Justices), dan bahkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sendiri !

Saya tercengang saat saya membaca statistik yang ditulis dalam sebuah pamflet yang dikeluarkan oleh Dean of women's office di Universitas Queen berikut :

* Di Canada, setiap 6 menit ada seorang wanita yang mengalami pelanggaran sexual.

* 1 dari 3 wanita di Canada akan mengalami pelanggaran sexual pada suatu saat dalam kehidupannya.

* 1 dari 4 wanita berada dalam resiko diperkosa atau usaha pemerkosaan dalam kehidupannya.

* 1 dari 8 wanita akan mengalami pelanggaran sexual saat menjadi mahasiswi unitersitas.

* Sebuah penelitian menemukan bahwa 60% dari mahasiswa laki-laki mengatakan mereka akan berbuat pelanggaran seksual jika mereka yakin mereka tidak ditangkap.

Ada sesuatu yang secara fundamental amat sangat keliru di masyarakat kita ini [negara Barat, penerjemah] Suatu perubahan yang radikal sangat perlu dilakukan di dalam gaya hidup dan budaya kita ini. Budaya hidup sederhana (modesty) teramat sangat dibutuhkan.Sederhana dalam berpakaian, dalam bertutur kata, dan dalam sopan santun berhubungan antara pria dan wanita. Kalau perubahan tidak dilakukan, maka angka-angka statistik yang kelabu di atas akan makin suram dari hari ke hari hingga benar-benar semuanya terjerembab dalam kegelapan. Dan sialnya, penanggung beban masyarakat yang paling berat adalah para wanita.

Sesungguhnya kita semua menderita sebagaimana Khalil Gibran (sastrawan nasrani dari Libanon, penerjemah) pernah mengatakan: "...for the person who receives the blows is not like the one who counts them." (Khalil Gibran, 1960, hal 56). Oleh sebab itu, sebuah masyarakat seperti Perancis yang pernah mengusir seorang gadis dari sekolahnya lantaran si gadis menampilkan kesederhaan dengan mengenakan tudung, sesungguhnya hanyalah tindakan yang mencelakakan masyarakat itu sendiri.

Adalah sebuah ironi maha besar di dalam dunia yang kita tinggali saat ini. Secarik tudung penutup kepala mereka katakan sebagai simbol 'kesucian' saat dikenakan oleh seorang biarawati Katolik, padahal dalam ajaran Kristiani hal itu untuk menunjukkan kekuasaan pria. Namun apabila secarik tudung kepala tersebut dikenakan oleh seorang muslimah untuk keperluan melindungi diri, justru dituduh sebagai simbol penindasan pria atas wanita! 

Catatan : Artikel berikut adalah salah satu bab dari buku kecil karangan Dr. Sherif Abdel Azeem, seorang professor di Queen University, Ontario, Canada. Judul bukunya (terbitan 1996) adalah Women in Islam versus Women in the Judaeo-Christian Tradition; The Myth and The Reality. Hak Cipta ada pada pengarang dimana beliau mengijinkan untuk penyalinan dan terjemahan sepanjang tidak mengurangi isinya.

Ambil di situsnya orang, lupa namanya

Ujian Itu Melemahkan Imanku

6 komentar


Ini adalah perjalanan hidupku, yang aku goreskan lewat kata-kata, sebab bibir ini telah keluh untuk berucap Malam ini, kulihat jarum jam telah menunjukan pukul 02.00 dini hari, namun aku masih belum bisa memejamkan mataku, bayang-bayang kepiluan selalu mengganggu fikiranku, dan hari ini, adalah hari ke 4 dimana aku telah pergi meninggalkan rumah dan segala kepiluan yang ada dilamannya. Hari ini juga adalah hari yang ke 4 dimana aku telah terpisah dengan istri dan anak-anakku. Kurasakan kerinduan ini teramat mendalam, aku ingin memeluk mereka, aku ingin merengkuh mereka dalam dekapan kasih sayang, namun ternyata aku tak memiliki daya untuk mewujudkannya. Aku terpaksa meninggalkan mereka dengan sebuah alasan yang jelas, aku ingin berihtiar untuk sebuah urusan yang begitu menyesakkan dadaku, dan aku sendiri tak tahu sampai kapan semua ini akan beroleh penyelesaian aku bingung, hatiku kalut, aku seperti orang hina yang mengetuk pintu hati setiap insan untuk meminta pertolongan, yah, pertolongan yang begitu sangat berarti buat hidupku dan keluargaku, namun hingga kini pertolongan itu seolah masih jauh dari hidupku.

Al-kisah...

Tujuh tahun yang lalu, ayahku telah meminjam dana sejumlah Rp. 15.000.000 pada seorang dermawan, karena sebuah desakan kehidupan yang menyeretnya terpaksa harus meng-adakan dana tersebut. Dimana saudarku yang tua meminta segera dinikahkan dengan wanita pujaan hatinya, padahal kondisi keluarga saat itu sangat tidak mendukung, namun kondisi tersebut tak dimengerti oleh kakakku, sehingga bila hasrat hatinya tak dikabulkan oleh ayah, maka rumah kami yang akan menjadi sasaran kemarahannya, yah, dia berniat akan membumihanguskan rumah dan seisinya bila nanti impiannya tak jadi nyata. Itulah mengapa kedua orang tuaku terpaksa harus mengadakan uang tersebut dengan jalan meminjam dari dermawan yang dapat terketuk pintu hatinya. Saat itu, karena aku masih kuliah, sehingga aku tak dapat berkata apapun, selain berdoa semoga orang tuaku dapat melunasi pinjaman tersebut. 

Waktu terus bergulir, hingga masalah itupun usai berlalu, bahkan aku sendiri telah lupa dengan masalah piutang tersebut. Tahun 2006 aku menikah dengan seorang muslimah yg taat, hari-hari kami lalui dengan kebahagiaan, berbagai cobaan kami lalui bersama, hingga lahirlah 2 Jundi mungil dari rahimnya. Alhamdulillah, alangkah bahagianya hatiku saat itu, hingga datanglah musibah ini, dermawan tersebut datang menemui kami dan menagih uang yang dipinjam ayah pada 7 tahun silam, saat itu aku shock, aku tak menyangka kalau ternyata pinjaman itu selama 7 tahun belum dibayar oleh ayah, hingga kondisi beliau saat ini tak memungkinkan lagi untuk membayar pitang tersebut. Faktor usia dan ekonomi yang pas-pasanlah yang menjadi alasannya, hatiku miris mendengarnya, sakit namun perlahan muncul rasa iba dalam hatiku ”Kasihan ayah dia harus mengalami ini dimasa tuanya, haruskah aku berlepas diri dari masalah ini?, sementara dia adalah ayahku, ya Allah kuatkanlah hatiku” itulah ujuarku saat itu. 

Kucoba untuk bermusyawarah dengan kedua saudaraku, mencari solusi yang terbaik untuk melepaskan beban ayah yang kini tengah merong-rong masa tuanya, namun kedua saudaraku tidak memberi respon dan memilih untuk pergi menjauh dari kehidupan kami, karena tak ingin menanggung malu dengan rong-rongan penagih yang setiap hari datang kerumah, aku sangat terpukul, air mataku tak terbendung. Yang ada dalam benakku hanyalah “ayah”, kasihan dia, kuingat betul saat itu, ba’da jum’at aku bermusyawarah dengan istriku, kulihat tak ada guratan sedih diwajahnya, ketegarannya membuat aku kuat dalam menghadapi kemelut hidup ini, bahkan dari bibirnya terucap kata-kata yang begitu bijak, yang telah membuatku lupa, bahwa aku sedang dalam masalah besar. Subhanallah terima kasih ya ALLAH, engkau mengujiku dengan maslaah ini, namun KAU pula telah mengutus penawarnya yang saat ini tengah mendampingiku. Maha Suci Engkau ya Allah. Akhirnya, dengan kesepakatan bersama (aku dan Istri), tabungan yang belum seberapa, yang telah berbulan-bulan lamanya kami tabung untuk mewujudkan Rumah Mungil Impian, kami ikhlaskan untuk membayar tagihan pinjaman tersebut meskipun belum sepenuhnya menutupi, dan istriku telah rela menelan pahitnya kehidupan dengan memulai segalanya dari awal, bahkan terkadang harus merelakan hasrat hati dalam perasaan lapar dan haus, begitu tabahnya dia hingga kesyukuran tak pernah pupus dari bibirku. 

Hingga suatu hari, tepatnya hari selasa 25 Agustus 2009, aku diundang oleh Saudaraku kesurabaya untuk sebuah urusan, yah, Urusan Dakwah, saat undangan itu tiba, hatiku bimbang, aku tak tahu apakah aku harus memenuhi undangan tersebut atau tidak, sementara aku di deadline harus menutupi sisa piutang ayah pada tanggal 5 sepetember 2009, disisi yang lain, istriku tercinta baru 2 pekan lamanya usai melahirkan putra kedua kami. Dalam kebimbangan tersebut, lagi-lagi istriku memotifasi aku untuk memenuhi undangan tersebut, Katanya padaku saat itu “aba, pergilah, tak usah fikirkan umi, sebab Allah akan menjaga kami, dan insya Allah aba selamat hingga pulang nanti, ini adalah bagian dari dakwah, yakinlah bahwa BILA KITA MENOLONG AGAMA ALLAH, MAKA DIA PULA AKAN MENOLONG KITA DARI KESULITAN DAN HIMPITAN HIDUP” kata-kata lembutnya itu yang membuat hatiku yakin untuk memenuhi undangan tersebut. Akhirnya aku silaturahim kesurabaya dengan niat LILLAHI TA’ALAA. 

Hari-hari aku lalui dengan semangat saat berada disana, ukhuwah yang begitu kental dan kemesraan yang indah bersama saudara-saudara seaqidah telah membuatku melupakan masalah yang kutinggalkan di Gorontalo, berbagai aktifitas aku tekuni disana, dan aku sangat menikmatinya, sebab aku melakukan sebuah tugas mulia, hingga pada hari ahad malam tanggal 30 agustus 2009 aku dikagetkan dengan dering handpone yang kupinjam dari sahabatku disana, kulihat ada sebuah panggilan dari nomor yang kukenal, yah, nomor sahabatku dari makassar, perlahan telepon itu aku jawab, kudengar suara diseberang, ternyata suara ayahku, dalam teleponya beliau dengan tersedu dalam tangisannya mengingatkan aku agar segera pulang, karena deadline waktu pelunasan sisa pinjaman tinggal 6 hari lamanya. Mendengar hal tersebut aku jadi panik, kemana lagi aku harus mencari dana sejumlah itu untuk menutupi sisa pinjaman tersebut, akhirnya dengan menanggalkan rasa malu aku mulai berikhtiar pada saudara-saudaraku disana, dan berharap ada angin segar yang dapat membuat aku tersenyum kembali setelah ketegangan dan rasa panik yang menggelayut dihatiku, tapi sepertinya kondisi pula yang membuat mereka tak bisa berbuat banyak, hanya tatapan sedih dan ucapan doa yang keluar dari bibir mereka, Ya ALLAH, lalu aku harus bagaimana?, haruskah aku menyegerakan diri untuk pulang?, sementara masih ada tugas yang harus aku selesaikan disurabaya ini. 

Dengan perasaan sedih aku mengungkapkan niatku untuk segera pulang ke makasar, semua terjadi begitu cepat, hingga hanya dalam hitungan jam aku telah kembali menginjakan kakiku di makassar. Saat pertama kali menapakan kaki ditanah kelahiranku, berbagai perasaan berkecamuk dihatiku, antara bahagia, cemas dan bingung, bahagia karena bisa berkumpul bersama keluargaku, bersama istri dan anak-anakku, serta cemas dan bingung dengan masalah yang sedang menantiku, namun aku berusaha untuk menjalani semuanya, karena ini sudah merupakan garisan hidup yang harus aku lalui, Ya ALLAH berikan aku petunjuk untuk melalui semua ini. Hari-hari mulai aku lewati, jarum jam tak mau kompromi, dia selalu berputar menunaikan kewajibannya. Demi kehormatan keluarga, berbagai cara aku tempuh untuk mencari pinjaman dana, aku bahkan rela berpasrah diri dengan cara mengetuk satu persatu pintu rumah sahabat-sahabatku seiman dan seaqidah disini, namun karena kondisi ekonomi yang pas-pasan, akhirnya hanya rasa simpatik yang terus mengalir untuk keluargaku tanpa ada penyelesaian yang berarti, hingga tanggal 5 itupun tiba, sementara aku belum menemukan pinjaman sepeserpun, bahkan tak ada kabar gembira dari pihak manapun untuk sekedar melepaskan diriku dari himpitan beban ini. 

Pukul 10 pagi kulihat wajah-wajah masam mengetuk pintu rumahku, yah mereka adalah penagi-penagih yang diutus oleh sang rentenir mengih sisa uangnya, ya Allah, kurasakan langit seolah mau runtuh, tak kala aku mengabarkan bahwa aku belum memiliki uang tunai untuk membayar sisa pinjaman tersebut, amarah, umpatan dan cacian mengalir untukku dihadapan puluhan masyarakat yang kebetulan saat itu sedang bermain volly tak jauh dari rumahku, alanghkah malunya aku saat itu, ada rasa benci mulai merayap dalam sum-sum nadiku, benci pada nasib, benci pada hidup dan benci pada diriku sendiri yang tak becus mendapatkan dana itu. Dengan perasaan memelas aku memohon toleransi waktu pada mereka, akhirnya dengan berbekal kebijakan dari big bos mereka, akupun diberikan toleransi waktu 5 hari kedepan, dan harus menepati janjiku melunasi sisa pinajaman tersebut pada tanggal 10 september nanti. Jujur meskipun harga diriku dan keluarga telah terinjak-injak, namun aku berusaha bangkit dan harus tertatih-tatih kembali menengadahkan tanganku bak pengemis yang mengharap belas kasih dari orang-orang kaya, air mataku selalu menetes deras mengiringi setiap langkahku, mengharap ada secercah kebahagiaan yang dapat menyelamatkan aku dari masalah ini. 

Aku mulai memanfaatkan jasa telepon selulerku untuk menghubungi beberapa pengusaha kaya yang kuanggap masih memiliki hati nurani dan belas kasih, kukirim pesan-pesan singatku pada beberpa nomor yang kuanggap masih memiliki rasa sayang padaku dan keluarga, dengan sebuah harapan, semoga ada satu dari sekian nomor tersebut yang akan iba pada deritaku ini, namun lagi-lagi hanya rasa simpatik yang aku dapatkan, tanpa ada ujung peneyelesaian, bahkan tanpa mereka mintapun aku menanggalkan rasa maluku dengan mengirimkan nomor rekening ATM teman yang aku pinjam, juga dengan penuh harapa, agar saldo yang tersisa 10.000 didalamnya bisa bertambah menjadi 6 jutaan. Dengan penuh harap aku selalu datang kemesin ATM untuk sekedar mengecek apa telah ada keajaiban untuk solusi dari maslahku ini, pagi, siang, sore, malam, bahkan tengah malampun aku selalu meluangkan waktuku untuk mengecek rekening ATM tersebut, namun hasilnya masih tetap sama, saldonya tetap Rp. 10.000. air mataku selalu tak bisa kubendung mengetahui kenyataan tersebut, sempat terfikir olehku mengakhiri hidup ini, aku kalut, hatiku kecewa, , ANDAI BUNUH DIRI TERSEBUT BUKALAH DOSA, MAKA MUNGKIN PILIHAN INILAH YANG TELAH KUTEMPUH, aku juga mulai menyadari bahwa aku tak bisa berharap banyak dari mereka, sebab mereka bukan siapa-siapaku, mereka juga bukan keluargaku, sehingga aku tak pantas harus menaruh harapan pada mereka. 

Hingga akhirnya hari jum’at 9 september 2009 pukul 02 dini hari, aku mulai mengemasi pakaianku, aku berniat untuk turun dari rumahku, karena tak kuat menerima hinaan, cacian dan makian dari penagih yang selalu datang kerumah, perlahan kukecup kening istriku yang tertidur pulas, kulihat ada air bening menetes dipipinya, kutatap wajah sendunya, ada guratan-guratan sedih dan letih diwajahnya, perlahan juga aku mengecup kening anak pertamaku ‘Ismail’ namanya, dia adalah anak penurut, yang selalu merasa sedih dan menangis bila sehari tak melihatku, kurasakan air bening mengalir dipipiku, “MAAFKAN PAPA SAYANG, PAPA TERPAKSA MENINGGALKAN KALIAN UNTUK SEMENTARA WAKTU, ABA JANJI BILA NANTI MASALAH INI SELELSAI, PAPA AKAN KEMBALI PADA KALIAN, PAPA AKAN MEMBAHAGIAKAN KALIAN, DAN INSYA ALLAH TIDAK AKAN PERGI LAGI MENINGGALKAN KALIAM, MAAFKAN PAPA NAK”ujarku perlahan samabil memeluk erat anakku yang sementara tertidur pulas, aku yakin, besok pagi ketika dia bangun dari tidurnya, pasti orang pertama yang akan dicarinya adalah aku, kemudian perlahan pula aku medekap anak keduaku yang baru lahir sebulan lalu, air mataku kembali tak bisa kubendung. Kasihan dia, seharusnya sebagai seorang ayah aku berada disamping mereka saat ini, tapi apa boleh buat, semua harus kujalani, tak ada pilihan lain lagi bagiku, kusisipkan sepucuk surat didekat istriku yang terbaring letih ”MA, MAAFKAN PAPA SAYANG, PAPA JANJI INSYA ALLAH AKAN KEMBALI, JAGA ANAK-ANAK KITA YA, JAGA DIRI KALIAN BAIK-BAIK YA, PAPA AKAN SELALU BERDOA BUAT KALIAN, SEMOGA KITA AKAN TERLEPAS DARI BEBAN INI, DAN AKAN BERKUMPUL KEMBALI NANTI”, 

Akhirnya dengan menenteng beberapa potong pakaian aku mulai melangkahkan kakiku meninggalkan rumah, malam itu aku langgsung mendatangi mesin ATM untuk yang kesekian kalinya, tetapi hasilnya masih sama. Tanggal 10 akhirnya tiba juga, dan kenyataan pahit tak dapat dielakkan, ketika emosi tak terbendung lagi, kudengar kabar bahwa satu persatu perabot isi rumahku telah dieksekusi, dijemput sebagai jaminan, bagiku mungkin prabot itu tak berarti apa-apa, namun harga diri kami yang telah terinjak-injak bagiku begitu sulit untuk kuterima, apalagi eksekusi itu kembali terjadi pada siang hari dan dihadapan orang banyak, meski dari jarak yang sangat jauh, namun rasa kecewa dan malu itu tak bisa aku sembunyikan. Hari-hari aku lalui dengan kesedihan, aku hanya berharap semoga istri dan anak-anakku dalam keadaan baik-baik dirumah, dengan perasaan sedih aku kembali mendatangi mesin ATM untuk mengecek kembali isi rekening itu, tetapi hasilnya masih sama, hingga akhirnya aku telah pasrah, mungkin inilah jalan hidup yang harus aku tempuh, dengan perasaan lunglai aku tersungkur didekat mesin ATM, kulihat arloji ditanganku menunjukan pukul 23.00. 

Beberapa saat kemudian aku mendengar sebuah sapaan suara asing yang ternyata adalah seorang lelaki paro baya, TOMMY namanya, pria ini ternyata sudah beberapa hari ini memperhatikan gelagatku, rasa kalut yang menderaku, dan itu membuatnya terenyuh, disapanya aku dengan tuturnya yang lembut, akhirnya percakapan singkatpun terjadi, aku mulai bertutur tentang masalah yang kuhadapi saat itu, dengan seksama TOMMY mendengarkan kisahku, kulihat air matanya menetes, keakrabanpun terjalin, hingga TOMMY mengakui bahwa dia adalah AKTIFIS GEREJA dan siap membantuku keluar dari masalah yang kuhadapi tersebut, segala kebutuhanku akan dipenuhinya, apapun yang aku mau akan diturutinya, namun dengan sebuah syarat, bahwa aku harus ikut agamanya dan meyakini tuhannya, gemetar tubuhku mendengar syarat tersebut, namun perasaan kecewa, marah, dan sakit telah menguasai nalarku, hingga tanpa berfikir panjang aku mengiyakan syarat tersebut, aku telah lemah, imanku goyah, hatiku mulai luluh, MENGAPA SAUDARAKU SEIMAN DAN SEAQIDAH SEOLAH TAK SUDI MELEPASKAN AKU DARI BEBAN HIDUP INI, SEMENTARA DIA, ORANG YANG BARU SAJA AKU KENAL DENGAN BEGITU MUDAHNYA MEMBERI PENAWAR ATAS KELUKAAN YANG AKU RASAKAN, 

Akhirnya kesepakatanpun terjadi, aku diminta datang kegerajanya hari ahad tanggal 13 september pukul 10.00 pagi untuk menandatangani sebuah kontrak yang masih kurang jelas bagiku, sebagai langkah awal dan tanda bahwa aku telah menyepakati syarat tersebut. Aku mulai menanggalkan satu persatu simbol-simbol islam dalam diriku, dengan tangan gemetar, dihadapannya aku meraih sebilah gunting dan mulai mencukur jenggotku, aku mulai menanamkan pesan-pesan penting dalam diriku, bahwa yang menyelamatkan aku saat ini bukan saudara dari agamaku, tetapi dari agama lain, aku mulai melalaikan satu persatu waktu sholat yang selama ini tak pernah lepas dari aktifitasku, YA ALLAH AKU CINTA PADAMU, AKU CINTA AGAMAMU, AKU CINTA SELURUHNYA TENTANGMU, TETAPI AKU TELAH KECEWA DENGAN SEMUA INI, setelah kejadian itu, hari-hari aku lalui dengan kehampaan dan kepedihan, aku bingung, aku malu pada diriku sendiri yang telah picik menggadaikan agamaku demi sebuah kebahagiaan, tapi disisi lain apa yang harus aku lakukan?, berbagai ikhtiar telah aku lakukan, tapi tak ada satupun yang membuahkan hasil. 

Hingga akhirnya hari ahad itupun tiba, pukul 09.00 pagi aku mulai bersiap-siap menuju ketempat dimana pak tommy menunggu aku, perasaanku tak menentu, air mataku menetes deras YA ALLAH masih adakah pertolongan bagiku sebelum akhirnya segalanya terlepas dari diriku?, lama aku terpaku dalam gejolak jiwa yang bergemuruh, hingga akhirnya kulihat jarum jam menunjukan pukul 09.45 menit, sementara aku masih belum beranjak, kulihat 15 panggilan tak terjawab dari pak tommy YA ALLAH tolonglah aku. Saat itu perasaanku semakin bergemuruh dan tak menentu…tiba-tiba kurasakan kepalaku pening dan dunia kurasakan mulai gelap semua gelap dan gelap hingga aku tak ingat apapun. 

Semilir angin bertiup menerpa wajahku, kudengar suara azan berkumandang aku mencoba mengingat-ingat kembali beberapa peristiwa sebelum aku tersungkur pingsan kulirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku, pukul 12.30 ya ALLAH, berarti telah masuk maktu sholat zhuhur, kuperhatikan kembali hpku ada 45 panggilan takterjawab dan 6 pesan singkat dari pak tommy sepertinya dia kecewa dengan janji yang tidak kutunaikan, dan SUBHANALLAH ada pesan ke 7 dari sebuah nomor yang tidak asing lagi bagiku, nomor salah seorang saudara yang mengabarkan bahwa dia memintaku untuk datang kerumahnya ba’da zhuhur, katanya dia memiliki kelebihan materi dan siap membantuku, terima kasih ya ALLAH engkau telah menolongku dari kesulitan hidup ini terima kasih. Semoga semua ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi diriku…

Itulah sepenggal kisah yang baru saja aku lewati, sungguh begitu sulit, tapi aku hanyalah manusia biasa yang tak memiliki daya, sulit dipercaya memang tapi inilah realita yang benar-benar terjadi dalam hidupku, Ya Allah KAU ada dalam setiap helaan nafasku, KAU ada dalam setiap detak jantungku, mungkin benar, aku terlalu rapuh, imanku terlalu lemah, tapi semua tak bisa kuelakkan, hanya ada satu sahabat yang padanya aku telah menceritakan semua ini IVAN namanya, dia sahabat yang baik, kudoakan semoga kau tak akan mengalami nasib pahit seperti ini.

Sumber : Suarawahdah.com

Adab Membaca Al-Qur’an

0 komentar

1. Membaca Al-Qur’an dalam keadaan berwudhu, suci pakaian, badan, dan tempatnya

2. Memilih tempat tenang dan waktunya pas karena lebih mudah untuk berkonsentrasi

3. Memulai dengan Ta’awudz dan basmalah pada setiap awal surah selain surah At-Taubah

“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl : 98)


4. Memperhatikan hukum-hukum tajwid dan membunyikan huruf dengan makhrojnya serta membacanya dengan tartil atau perlahan-lahan. 

5. Disunnahkan memanjangkan bacaan dan memperindah suara, Anas bin Malik ditanya bagaimana bacaan nabi terhadap Al-Qur’an, Anas menjawab :

“Bacaannya panjang kemudian Nabi membaca Bismillahirrahmanirrahim sambil memanjangkan Bismillahi dan memanjangkan bacaan Arrahiim.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan Nabi bersabda : 

“Hiasilah suara kalian dengan Al-Qur’an.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al-Albani) 

6. Merenungkan dan menghayati makna yang terkandung dalam ayat dengan memohon surga kepada Allah bila terbaca ayat-ayat surga dan berlindung kepada Allah dari neraka jika terbaca ayat-ayat neraka.

“Kitab (Al-Qur’an) yang kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. As-shad : 29)

Dan dalam riwayat Hudzaifah ia menuturkan :

“Apabila Nabi terbaca ayat yang mengandung makna bertasbih kepada Allah, beliau bertasbih dan apabila terbaca ayat yang mengandung doa beliau berdoa dan apabila terbaca ayat bermakna meminta perlindungan kepada Allah beliau memohon perlindungan.” (HR. Muslim)

7. Hendaknya membaca Al-Qur’an dengan baik dan diam

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarlah dan diamlah agar mendapat rahmat." (QS. Al-Araf : 204)

8. Tekun mempelajari dan membacanya agar tidak lupa, Rasulullah Shallallahu ‘alahi Wasallam :

“Peliharalah Al-Qur’an baik-baik karena demi Tuhan yang diriku berada di TanganNya, ia benar-benar lebih liar (mudah lepas) daripada onta yang terikat di tali kendalinya.” (HR. Bukhari)

9. Tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci

“Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan.”

10. Boleh bagi wanita haid dan nifas membaca Al-Qur’an dengan tidak menyentuh mushafnya.

11. Disunnahkan menyaringkan bacaan Al-Qur’an jika tidak terdapat unsur negatif seperti riya’ atau yang serupa dan juga tidak sampai menganggu orang yang sedang shalat atau orang lain yang membaca Al-Qur’an.

12. Termasuk sunnah berhenti membaca Al-Qur’an apabila seseorang bangun di malam hari, Rasulullah Shallallahu ‘alahi Wasallam bersabda :

“Apabila salah seorang kamu bangun di malam hari lalu lisannya merasa sulit untuk membaca Al-Qur’an hingga tidak menyadari apa yang ia baca maka hendaknya ia berbaring (tidur).” (HR. Muslim)

Sumber : Materi dari Halaqah Belajar Ilmu Tajwidku

Air Mata Perpisahan

16 komentar

Namaku Mariani orang-orang biasa memangilku Aryani, ini adalah kisah perjalanan hidupku yang hingga hari ini masih belum lekang dalam benakku, sebuah kisah yang nyaris membuatku menyesal seumur hidup bila aku sendiri saat itu tidak berani mengambil sikap. Yah, sebuah perjalanan kisah yang sungguh aku sendiri takjub dibuatnya, sebab aku sendiri menyangka bahwa didunia ini mungkin tak ada lagi orang seperti dia.

Tahun 2007 Silam, aku dipaksa orang tuaku menikah dengan seorang pria, Kak Arfan namanya, Kak Arfan adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung denganku, tapi dia seleting dengan kakakku saat sekolah dulu, usia kami terpaut 4 Tahun, yang aku tahu, bahwa sejak kecilnya Kak Arfan adalah anak yang taat kepada orang tuanya, dan juga Rajin ibadahnya, dan tabiatnya seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa, aku merasa risih sendiri dengan Kak Arfan apabila berpapasan dijalan, sebab sopan santunya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang, geli aku menyaksikannya, yah, kampungan banget gelagatnya…, setiap ada acara-acara ramai dikampungpun Kak Arfan tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya, yaah, pasti kalau dicek kerumahnyapun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Arfan dimesjid nak, menghadiri taklim”, dan memang mudah sekali mencari Kak Arfan, sejak lulus dari Pesantren Al-Khairat Kota Gorontalo, Kak Arfan sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya dikebun atau disawah, meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan.

Secara fisik memang Kak Arfan hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan, sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Arfan dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa, tapi bagiku sendiri itu adalah hal yang biasa-biasa saja, sebab aku sendiri merasa bahwa sosok Kak Arfan adalah sosok yang tidak istimewa, apa itimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampunga banget, kadang hatiku sendiri bertanya, koq bias yah, ada orang yang sekolah dikota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada, Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, sholat, taklim dan kembali kekerja lagi, seolah riang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, kebiosokop kek, ngumpul bareng teman2 kek stiap malam minggunya dipertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam kamisnya, apalagi setiap malam kamis dan malam minggunya ada acara curhat kisah yang TOP banget disebuah station Radio Swasta digotontalo, kalau tidak salah ingat nama acaranya Suara Hati dan nama penyiarnya juga Satrio Herlambang.

Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, akupun demikian, aku sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby, masa-masa indah kulewati bersama boby, indah kurasakan dunia remajaku saat itu, kedua orang tua boby sangat menyayangi aku dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restunya atas hubungan kami, hingga musibah itu tiba, aku dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat aku kenal yah siapa lagi kalau bukan sikuper Kak Arfan lewat pamanku orang tuanya Kak Arfan melamarku untuk anaknya yang kampungan itu, mendengar penuturan mama saat memberitahu padaku tentang lamaran itu, kurasakan dunia ini gelap, kepalaku pening…, aku berteriak sekencang-kencangnya menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit aku sampaikan langsung pada kedua orang tuaku bahwa aku menolak lamaran keluarganya Kak Arfan, dan dengan terang-terangan pula aku sampaikan pula bahwa aku memiliki kekasih pujaan hatiku, Boby. 


Mendengar semua itu ibuku shock dan jatuh tersungkur kelantai, akupun tak menduga kalau sikapku yang egois itu akan membuat mama shock, baru kutahu bahwa yang menyebabkan mama shok itu karena beliau sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Arfan, hatiku sedih saat itu, kurasakan dunia begitu kelabu, aku seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatiku boby. Hatiku sedih saat itu..dengan berat hati dan penuh kesedihan aku menerima lamaran Kak Arfan untuk menjadi istrinya dan kujadikan malam terakhir perjumapaanku dengan boby dirumahku meluapkan kesedihanku, meskipun kami saling mencintai tapi mau tidak mau boby harus merelakan aku menikah dengan Kak Arfan karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.

Tanggal 11 Agustus 2007 akhirnya pernikahankupun digelar, aku merasa bahwa pernikahan itu begitu menyesakkan dadaku, air mataku tumpah dimalam resepsi pernikahan itu, ditengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin akulah yang paling tersiksa, karena harus melepaskan masa remajaku dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah kucintai. Dan yang paling membuatku tak bias menahan air mataku, mantan kekasihku boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut, Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah…mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?

Waktu terus berputar dan malampun semakin merayap, hingga usailah acara resepsi pernikahan kami, satu persatu para undangan pamit pulang hingga sepilah rumah kami, saat masuk kedalam kamar, aku tidak mendapati suamiku Kak Arfan didalamnya, dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya maka akupun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuhku setalah sebelumnya menghapus make-up pengantinku dan melepaskan gaun pengantinku, aku bahkan tak perduli kemana suamiku saat itu, karena rasa capek dan diserang kantuk akupun akhirnya tertidur, tiba-tiba disepertiga malam aku tersentak tak kala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurku, dadaku berdegup kencang, aku hamper saja berteriak histeris andai saja saat itu atk kudengar serua Takbir terucap dari lirih dari sosok yang berdiri itu, perlahan kuperhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri disampingku itu adalah Kak Arfan suamiku yang sedang sholat tahajud, perlahan aku baringkan tubuhku sambil membalikkan diriku membelakanginya yang saat itu sedang sholat tahajud. 

Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Arfan, tapi meskipun demikian aku masih tak bias menerima kehadirannya dalam hidupku, saat itu karena masih dibawah perasan ngantuk, akupun kembali teridur, hingga pukul 04.00 dini hari kudapati suamiku sedang tidur beralaskan sajadah dibawah ranjang pengantin kami, dadaku kembali berdegung kencang kala mendapatinya, aku masih belum percaya kalau aku telah bersuami, tapi ada sebuah Tanya terbetik dalam benakku, mengapa dia tidak tidur diranjang bersamakku, kalaupun dia belum ingin menyentuhku, paling gak dia tidur seranjang dengankum itukan logikanya, ada apa ini ? ujarku perlahan dalam hati. Aku sendiri merasa bahwa mungkin malam itu Kak Arfan kecapekan sama sepertiku sehingga dia tidak mendatangiku dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami, tapi apa peduliku dengan itu semua, toh akupun tidak menginginkannya, gumamku dalam hati.

Hari-hari terus berlalu, dan kamipun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak Arfan bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya, dan aku dirumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa aku telah bersuami, dan memiliki kewajiban melayani suamiku, yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama boby belum hilang dari benakku, aku bahkan masih merinduinya. Semula kufikir bahwa prilaku Kak Arfan yang tidak pernah menyentuhku dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan kami, tapi ternyata yang terjadi hamper setiap malam sejak malam pengantin itu Kak Arfan selalu tidur beralaskan permadani dibawah ranjang atau tidur diatas sofa didalam kamar kami, dia tidak pernah menyentuhku walau hanya menjabat tanganku, jujur segala kebutuhanku selalu dipenuhinya, secara lahir dia selalu mafkahiku, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang aku butuhan, tapi soal biologis, Kak Arfan tak pernah sama sekali mengungkit-ngukitnya atau menuntutnya dariku, bahkan yang tidak pernah kufahami, pernah secara tidak sengaja kami bertabrakan didepan pintu kamar dan Kak Arfan meminta maaf seolah merasa bersalah karena telah menyetuhku. 

Ada apa dengan Kak Arfan ? apa dia lelaki Normal ? kenapa dia begitu dingin padaku ? apakah aku kurang dimatanya ? atau ? pendengar, jujur merasai semua itu membuat banyak Tanya berkecamuk dalam benakku, ada apa dengan suamiku ? bukankah dia pria yang beragama dan tahu bahwa menafkahi istri itu secara lahir dan bathin adalah kewajibannya…? ada apa dengannya, padahal setiap hari dia mengisi acara2 keagamaan dimesjid, begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orangtuanya, bahkan terhadap akupun hamper semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekalipun dia mengasari aku, berkata-kata keras padaku, bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku, tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah bathinku, aku sendiri saat mendapat perlakuan darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan melupakn masa laluku bersama boby. Aku bahkan mulai merindukannya tak kala dia sedang tidak dirumah, aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i. 

Memang 2 hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam karton besar, semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga, tapi setelah kubuka, ternyata isinya 5 potong jubah panjang berwarna gelap, 5 buah Jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, 5 buah kaos kaki tebal panjang berwarnah hitam dan 5 pasang manset berwarna gelap pula, jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayanganku bahwa inilah konsekwensi menikah dengan seorang ustadz, aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya, ternyata dugaanku salah sama sekali, sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyainya, dan kini aku mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun, kukenakan busana itu agar dia tahu bahwa aku mulai menganggapnya istimewa, bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai aku ikuti, kadang ceramah-ceramahnya dimesjid sering aku ikuti dan aku praktekan dirumah, tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya, entah mengapa hingga 6 bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku, setiap masuk kamar pasti sebelum tidur dia selalu mengawali dengan mengaji lalu tidur diatas hamparan permadani dibawah ranjang hingga terjaga lagi disepertiga malam dan melaksanakan sholat tahajud, hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit, tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi, aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya, seba kak arfan sendiri tidak pernah menyentuhku, aku khawatir dia akan menolakku bila aku menawarkan jasa membantunya, Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini, aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..

Malam itu aku tidur dalam kegelisahan, aku tak bias tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak, kudengar kak arfanpun sering mengigau kecil, mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau, sementara malam begitu dingin diserta hujan yang sanagt deras dan angin yang bertiup kencang..kasihan kak arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini, perlahan aku bangun dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas, kupasangkan selimutnya yang sudah menjulur kekakinya, ingin sekali aku merebahkan diriku disampingnya atau sekedar mengompresnya, tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya, hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku dedahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya, tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahinya, kak arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar

”Afwan dek, kau belum tidur ? kenapa ada dibawah ? nanti kau kedinginan ? ayo naik lagi keranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” Pinta kak Arfan padaku, hatiku miris saat mendengar semua itu, dadaku sesak, mengapa kak arfan selalu dingin padaku , apakah dia menganggap aku orang lain, apa dihatinya tak ada cinta sama sekali untukku, tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kulapkan dengan teriakan, hingga akhirnya gemuruh dihatiku tak bias kubendung juga 

”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin ? kau bahkan tak pernah mau neyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku ? bukankah akuini istrimu ? bukankah aku telah halal buatmu ? lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu ? apa artinya diriku bagimu kak ? apa artinya aku bagimu kak ? kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahi aku ? mengapa kak ? mengapa ?” Ujarku disela isak tangis yang tak bias kutahan. Tak ada reaksi apapun dari kak arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu, yang Nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel didinding kamar kami, hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku 

”Dek…jangan kau pernah bertanya pada kk tentang perasaan ini padamu, karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu, tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri, apa saat ini telah ada cinta dihatimu untuk kakak?, kakak tahu, dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kk selama ini begitu dingin padamu, sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kk kabarkan padamu malam ini, kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini..?. ujar kak arfan dengan agak sedikit gugup, 

“Iya tolong jelaskan pada saya kak, mengapa kak begitu tega melakukan ini pada saya ? tolong jelaskan kak ?” Ujarku menimpali tuturnya kak Arfan “Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pelacur ? dan apa pekerjaan seorang pelacur ? afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah dihatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak, bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu, dank k tidak ingin hal itu terjadi padamu dek,kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksa saat malam pertama pernikahan kita sedangkan dihatimu tak ada cinta sama sekali buat kk, alangkah berdosanya kk bila pada saat melampiaskan birahi kk padamu malam itu sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kk, tetapi ada lelaki lain. 

Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang kerumahmu untuk memenuhi undangan bapakmu, tapi begitu kakak berada didepan pintu pagar rumahmu, kaka melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lammpiaskan pada kekasihmu boby, kau ungkapkan pada boby bahwa kau tidak mencintai kk, dan kau ungkapkan pada boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya, saat itu kk merasa bahwa kk telah mermpas kebahagiaanmu dan kk yakin bahwa kau menerima pinangan kk itu karena terpaksa, kk juga mempelajari sikapmu saat dipelaminan, bahwa begitu sedihnya hatimu saat bersanding dipelaminan bersama kk, lantas haruskah kk egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu, sementara tanpa memperdulikan perasaanmu kk menunaikan kewajiban kk sebagai suamimu dimalam pertama semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kk?,Kau istriku dek, skalilagi kau istriku, kau tahu..kk begtiu sangat mencintaimu dank k akan menunaikan semua itu manakala dihatimu telah ada cinta untuk kk, agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu, agar kau bias menikmati apa yg kita lakukan bersama, dan Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kk, dan kk juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu, beberapa hari ini kk perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yg syari, pinta kk padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kk semata maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk ALLAH TA’ALAA selanjutnya untuk kk..,

Mendengar semua itu aku memeluk suamiku, aku merasa bahwah dia adalah lelaki terbaik yg pernahkujumpai selama hidupku, aku bahkan telah melupakan boby, aku merasa bahwa malam itu aku adalah wanita yg paling bahagia didunia, sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya kak arfan mendatangiku sebagai seorang suami, hari2 kami lalui dengan bahagia, kak arfan begitu sangat kharismatik, terkadang dia seperti seorang kk buatku, terkadang seperti orang tua, darinya aku banyak belajar banyak hal, perlahan aku mulai meluruskan niatku, dengan menggunakan busana yg syari semata2 karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku, sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih2 cinta kami berdua, Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia, darinya aku belajar banyak ttg agama, aku menjadi mutarobbinya, hari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan, ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan dan dulu aku hamper saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangan dia.

Aku fikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua, diakhir tahun 2008 kak arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang, sebab ka arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan tersebut, aku sangat kehilangannya, aku seperti kehilangan penopang hidupku, aku kehilangan keksaihku, aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku

Tidak pernah terbayangkan olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat, yang tidak pernah aku lupakan diakhir kehidupannya kak arfan, dia masih sempat menasehatkan sesuatu padaku “DEK.., PERTEMUAN DAN PERPISAHAN ITU ADALAH FITRAHNYA KEHIDUPAN, KALAU TERNYATA KITA BERPISAH BESOK ATAU LUSA, KAKA K MINTA PADAMU DEK.., JAGA ABDURRAHMAN DENGAN BAIK, JADIKAN DIA SEBAGAI MUJAHID YG SENANTIASA MEMBELA AGAMA, SENANTIASA MENJADI YG TERBAIK UNTUK UMMAT, DIDIK DIA DENGAN BAIK DEK, JANGAN SIA-SIAKAN DIA, SATU PERMINTAAN KK .., KALAU SUATU SAAT ADA SEORANG PRIA YG DATING MELAMARMU, MAKA PILIHLAH PRIA YG TIDAK HANYA MENCINTAIMU, TETAPI JUGA MAU MENERIMA KEHADIRAN ANAK KITA, DAN MAAFKAN KK DEK, BILA SELAMA BERSAMAMU, ADA YG KURANG YG TELAH KK PERBUAT UNTUKMU, SENANTIASALAH BERDOA.., KALAU KITA BERPISAH DIDUNIA INI..INSYA ALLAH KITA AKAN BERJUMPA KEMBALI DIAKHIRAT KELAK.., KALAU ALLAH MENTAKDIRKAN KK YANG PERGI LEBIH DAHULU MENINGGALKAN DIRIMU, INSYA ALLAH KAKAK AKAN SENANTIASA MENANTIMU..”

Demikianlah pesan terakhir kak arfan sebelum keesokan harinya kak arfan meninggalkan dunia ini, hatiku sangat sedih saat itu…, aku merasa sangat kehilangan tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik…

Selamat jalan kak arfan..aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin

Wasalam 

NB : KIsah Nyata dari Akhwat di Gorontalo, Sulawesi Utara
Sumber : Suarawahdah.com

Engkau Cantik Dengan Jilbabmu

9 komentar


Saudariku,

Engkau sangat cantik dengan balutan jilbab lebarmu, tak terlihat sedikitpun lekuk tubuhmu

Engkau menjaga dirimu dari pandangan lelaki jalang yang bisa saja berniat jahat pada dirimu

Engkau pula membantu para lelaki alim nan sholeh untuk tunduk pandang dari moleknya tubuhmu

Engkau lakukan itu sebagai manifestasi kehambaanmu kepada Rabb

Teriknya matahari tidak menghalangi untuk tetap beribadah
Engkau rela merasa kepanasan dan mengeluarkan banyak peluh

Dan kutahu kau kadang merasakan lelah yang sangat

Namun demi kecintaan pada Rabb RasulNya dan mengharap Jannah
Engkau ridho melakukan semua itu

Bukan hanya itu sering kau terkena cemooh dan hinaan

Perkataan setan-lah, ninja-lah, fundamentalis-lah, apalah-lah

Tak jarang pula kau bahkan menerima penyiksaan yang pahit
baik oleh keluargamu sendiri sampai kepada masyarakat
kau ditendang, diusir, dikurung dan entah hukuman apa lagi
Namun engkau tetap tak bergeming layaknya benteng yang terbuat dari baja kokoh

Kau menyikapi semua itu dengan sikap anggun dan penuh bijaksana 
Sambil berkata “Ini perintah agama dan ku yakin Allah akan menolongku"
Sungguh, Benar-benar berbudi dirimu wahai saudariku
Menjaga diri dari Naar yang menyala-nyala

Nasehat Kepada Akhwat dan Ikhwan

3 komentar


Dunia maya merupakan ladang yang sangat menguntungkan bagi pencari informasi up to date, akses yang sangat mudah yang tidak mengeluarkan biaya yang tinggi memberikan peluang yang semakin besar untuk menjelajah informasi dunia. Cukup saja dengan bekal laptop kemudian mencari wilayah yang menyediakan hospot atau berbekal uang sekian puluh ribu dan seketika itu dapat bermain di rumah. Sangat menyenangkan memang mendapatkan berita dengan secepat kilat karena sudah banyak website-website yang tersedia sebagai salah satu sumber termasuk juga situs jejaring pertemanan. Situs semacam ini lebih memudahkan lagi mendapatkan berita secara cepat bahkan bisa saling menuangkan ide dalam dunia chatting. Chatting adalah sarana yang sangat menghibur karena dapat berkomunikasi secara langsung baik itu jarak dekat maupun jauh. 

Di sinilah yang menjadi polemik, situs jejaring pertemanan seperti Facabook, Twitter, MillatFacebook, Netlog, Friendster dan lain sebagainya. Memungkinkan bagi seseorang untuk saling mengenal dan bertukar informasi, membicarakan hal-hal yang bersifat umum bahkan masalah pribadi sebagai tindak lanjut dari pertemanan secara kontinyu.

Kemudian bagaimanakah akhwat dan ikhwan menyikapi fenomena ini ? yang perlu di garis bawahi bahwa chatting di perbolehkan selama hal tersebut tidak mendatangkan fitnah bagi keduanya. Kita spesifikkan antara laki-laki dan perempuan, chatting yang isi pesannya berkenaan sekedar tukar informasi maka menurut hemat saya diperbolehkan namun ini yang perlu digaris bawahi jangan dan jangan rutin (penekangan serius), karena akan berimplikasi jatuhnya seseorang dalam perbuatan fitnah. Fitnah maksudnya akan tumbuh benih cinta di antara keduanya, jika telah terserang virus merah jambu ini. Perasaan menggebu akan muncul tatkala rasa keingin tahuan yang besar untuk saling mengenal dan pada akhirnya komitmen untuk saling bertemu. Kalaupun tidak bertemu minimal angan-angannya yang berkeliaran ke sana kemari memikirkan lawan chatnya tersebut. 

Termasuk hal yang menurutku memalukan adalah mencari pasangan hidup di dunia maya, Masyaallah apa jadinya mendapatkan belahan jiwa di situs jejaring pertemanan. Jangan menjadikan alasan karena belum mendapatkan calon akhirnya memilih mencari di dunia maya, atau ketertarikan semu semata, karena cara yang di tempuh tidak tepat. Banyak hal yang membuat sistem seperti ini tidak diperbolehkan, contohnya saja mereka berdua saling mengikrarkan untuk saling mengenal lebih jauh mengenai kepribadian masing-masing dan secara otomatis keduanya menyediakan banyak waktu di depan Komputer dan itu artinya banyak membuang-buang waktu, mending jika diselingi dengan mencari informasi penting kalau tidak sama sekali terbuang sia-sia waktunya. Logisnya, mana bisa kita tahu apakah dia berbicara jujur atau hanya berpura-pura, orang baik-kah dia atau tidak ? setelah itu bertukar nomor telepon serta menuju pelaminan atau malah diculik, ini bukan hipotesis tapi realitas di lapangan memang seperti itu. Kesalahannya yaitu selama proses adaptasi mereka berdua-duaan disertai pesan-pesan rayuan berarti kedua-duanya telah terkena zina hati atau bisa disebut khayalannya tingkat tinggi tentang lawan bicaranya tersebut. Jadi saya sangat berharap sebaiknya jangan tempuh jalur seperti ini. Jodoh tidak akan lari kemana, serahkan semua kepada Allah sambil terus berjalan dan berusaha melalui jalur yang syar’i.

Hukum Menyingkat Salam

3 komentar

Seringkali kita dapati banyak kaum muslimin yang menyingkat salam dan shalawat dalam tulisan mereka baik, di dalam surat, artikel maupun di buku-buku. Terkadang assalamu’alaikum mereka singkat dengan “ASS” dan shalawat (shallallahu ‘alaihi wasallam) disingkat dengan “SAW”. Bagaimana sebenarnya hukum dalam permasalahan ini? Marilah kita baca fatwa para ulama yang berkenaan dengan penyingkatan ini:

1. Fatwa Syaikh Wasiyullah Abbas (Ulama Masjidil Haram, pengajar di Ummul Qura)

Soal:

Banyak orang yang menulis salam dengan menyingkatnya, seperti dalam Bahasa Arab mereka menyingkatnya dengan س- ر-ب. Dalam bahasa Inggris mereka menyingkatnya dengan “ws wr wb” (dan dalam bahasa Indonesia sering dengan “ass wr wb” – pent). Apa hukum masalah ini?

Jawab:

Tidak boleh untuk menyingkat salam secara umum dalam tulisan, sebagaimana tidak boleh pula meningkat shalawat dan salam atas Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak boleh pula menyingkat yang selain ini dalam pembicaraan.

Diterjemahkan dari www.bakkah.net


2. Fatwa Lajnah Ad-Daimah (Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)


Soal:

Bolehkah menulis huruf ص yang maksudnya shalawat (ucapan shallallahu ‘alaihi wasallam). Dan apa alasannya?

Jawab:

Yang disunnahkan adalah menulisnya secara lengkap –shallallahu ‘alaihi wasallam- karena ini merupakan doa. Doa adalah bentuk ibadah, begitu juga mengucapkan kalimat shalawat ini.

Penyingkatan terhadap shalawat dengan menggunakan huruf – ص atau ص- ع – Ùˆ (seperti SAW, penyingkatan dalam Bahasa Indonesia -pent) tidaklah termasuk doa dan bukanlah ibadah, baik ini diucapkan maupun ditulis.

Dan juga karena penyingkatan yang demikian tidaklah pernah dilakukan oleh tiga generasi awal Islam yang keutamaannya dipersaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga serta para sahabat beliau.

Dewan Tetap untuk Penelitian Islam dan Fatwa
Ketua: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ibn Abdullaah Ibn Baaz;
Anggota: Syaikh ‘Abdur-Razzaaq ‘Afifi;
Anggota: Syaikh ‘Abdullaah Ibn Ghudayyaan;
Anggota: Syaikh ‘Abdullaah Ibn Qu’ood

(Fataawa al-Lajnah ad-Daa.imah lil-Buhooth al-’Ilmiyyah wal-Iftaa., – Volume 12, Halaman 208, Pertanyaan ke-3 dariFatwa No.5069)

Ya Allah, Aku Jatuh Cinta

6 komentar

Cinta sebuah kata yang membuat bibir tersenyum membuat jiwa terasa tenang, dengannya hidup terasa lebih bermakna. Setiap hari perasaan semakin membumbung tinggi tatkala mengingatnya, dan semakin sumringah tatkala bertemu dengan si doi. Cinta adalah fitrah yang Allah anugerahkan pada hamba-hambanya, saling kasih mengasihi antar lawan jenis untuk menyalurkan suka cita di antara keduanya. Sikap saling membutuhkan antar sesama manusia itulah yang menjadikannya hadir yang diawali oleh kedekatan yang intens, hingga pada akhirnya terjadi ikatan batin yang menguat. Siapapun anda baik seorang presiden, kuli, mahasiswa, pejabat bahkan pendekar sekalipun akan merasakannya.

Islam agama Rahmatallil ‘alamin telah membahas rambu-rambu dalam bercinta, tidak menjadi sebuah permasalahan jika mencintai, justu cinta harus dijaga, dirawat, dan dilindungi dari segala jenis kehinaan dan apa saja yang mengotorinya. Begitu pula Rasulullah dan para sahabat pernah merasakannya, hanya saja agama ini memberikan bentuk penyaluran yang tepat melalui sebuah ikatan yang jelas yakni pernikahan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya. Dia menciptakan untukmu pasang-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikanNya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar-Rum : 21)

Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa jenis cinta kepada wanita ada tiga yaitu

1. Mencintai wanita untuk mendekatkan diri kepada Allah contohnya : cinta seorang suami kepada istrinya yang mendorong untuk melaksanakan syariat Allah.

2. Cinta yang dapat mendatangkan murka Allah dan dapat menjauhkan dari rahmatNya. Jenis cinta ini lah yang mendatangkan kerusakan dalam sistem kehidupan masyarakat seperti zina, perselingkuhan dan pacaran. 

3. Cinta yang mubah, cinta ini terjadi karena tidak ada unsur kesengajaan, sebagaimana mencintai bayangan seorang wanita yang berparas cantik. Tanpa sengaja dia melihat wanita itu lalu jatuh cinta. Dan cintanya itu tidak sampai menyebabkannya berbuat maksiat. Jika hasratnya telah menggebu maka sebaiknya ditempuh dengan jalur pernikahan, apabila belum mampu maka sibukkanlah diri ini dengan hal-hal yang bermanfaat. 

Salah satu bentuk yang paling umum untuk menyalurkan hasrat cinta adalah pacaran. Umat islam khususnya, telah banyak terjerumus pada kebudayaan liberal ini. Pacaran adalah salah satu pintu setan laknatullah dalam menjerumuskan cucu Adam ke jurang Neraka, dalam pacaran tidak terdapat sama sekali faedah, justru malah membuat pribadi menjadi pengecut karena takutnya mengarungi pernikahan, hanya mau enaknya saja. Jika mau jujur sistem ala pacaran penuh dengan kedustaan, dan pengekangan yang tidak berdasar karena hakekatnya bukanlah sebuah ikatan yang jelas.

Jika ikatan ini saja tidak jelas maka rasionalkah tubuh ini dipegang, dipeluk, dikecup, waliyadzubillah. Sungguh menjijikkan mengikuti pola hidup orang-orang kuffar, apa bedanya kita dengan sifat mereka jika mengadopsi kebudayaannya. Pacaran adalah pintu menuju jurang zina yang lebih besar yaitu jima’ (persetubuhan), karena sebelum itu terjadi maka didahului dengan rabaan. Kalau pun sebagian orang memberikan alibinya bahwa selama pacaran belum pernah dan tidak akan pernah bersentuhan, maka akan ku beri pertanyaan “Bagaimana jika kau mengarungi samudra asmara selama bertahun-tahun bisakah kau menjamin tidak bersentuhan walau sedikitpun? bukankah jika kau berkhalwat (berdua-duaan) memungkinkan bagimu melakukannya? mustahil jika kalian pacaran hanya bersifat monoton. Bukankah angan-anganmu selalu menghantuimu untuk selalu dekat, dan kemungkinan besar itu akan terjadi?” Ala bisa karena biasa.

“Dan jaganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah suatu perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra : 32) 

“Telah tertulis atas anak Adam nasibnya dari zina. Akan bertemu dengan hidupnya, tidak bisa tidak. Maka kedua mata, zinanya adalah memandang. Kedua telinga, zinanya berupa menyimak dengarkan. Lisan, zinanya berkata. Tangan, zinanya menyentuh. Kaki, zinanya berjalan. Dan zinanya hati adalah ingin dan angan-angan. Maka akan dibenarkan hal ini oleh kemaluan, atau didustakannya.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits di atas, ini juga yang membuktikan bahwa “Pacaran Islami” tidak ada.

Rasa suka tersebut datang karena banyak hal entah itu parasnya, kecerdasannya, kekayaannya, agamanya, keturunannya. 

“Wanita dinikahi karena empat hal : sebab hartanya, kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang beragama agar barakah kedua tanganmu.” (HR. Muslim)

Dari mata turun ke hati, sebaiknya orang seperti ini harus mengingat sebuah kutipan dari Al-Qur’an. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman : 

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya…” (QS. An-Nur : 30-31)

Ini sering terjadi diakibatkan melihat seseorang yang berwajah rupawan, jika engkau terus menatapnya maka memungkinkan bagimu untuk terus mengingatnya dan berusaha menginginkannya, jadi pandangan jangan di buat berkeliaran. 

Dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata : “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan yang tiba-tiba. Beliau bersabda : Palingkan segera pandanganmu!” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Dalil lainnya dalam sebuah kisah : 

Suatu ketika Al Fadl bin Abbas pernah membonceng Nabi Muhammad, beliau tengah melakukan haji Wada’ kemudian ada wanita Khats’amiyah yang meminta fatwa pada Nabi. Pada waktu itu Al Fadl menoleh pada seseorang wanita yang berwajah cantik. Kecantikan itu menarik hatinya, demikian pula wanita itu pun memandang pada Al Fadl. Maka Rasulullah pun memegang dagu Al Fadl dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Al Abbas bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau palingkan leher anak pamanmu ?” Beliau menjawab, “Saya melihat ada pemuda dan pemudi yang aku tidak bisa tenang kalau-kalau ada gangguan setan terhadap keduanya.”

Suatu waktu ada sahabat Rasulullah yang hendak menemui beliau, sedangkan ketika itu Rasulullah bersama Aisyah. Maka mendengar sahabatnya yang buta tersebut datang, segera Rasulullah menyuruh Aisyah untuk masuk ke dalam. Dia Mendengar perintah Nabi, Aisyah berkata, “Bukankah dia tidak bisa melihat ?” Rasulullah bersabda, “Tapi bukankah kamu bisa melihat?”

Kadang aku dibuat tertawa oleh kaum muda mudi yang sedang di mabuk asmara, mereka harus mencari tempat yang jauh dari kerumunan orang untuk menyalurkan nafsu syahwatnya. Setelah selesai masa berlaku romantika itu, beralih lagi ke target selanjutnya dan begitu seterusnya. “Aku sudah bosan dengan dia, mau cari yang baru” yang lain mengatakan “Kami sudah tidak cocok lagi, makanya kami bubar saya akan mencari lelaki yang lebih mengerti aku” serta ribuan alasan classic lain. Setan laknatullah telah tertawa “ngakak” melihat kelakuan mereka, mereka tidak ubahnya seperti binatang yang siap sedia membuka celah untuk bercinta “di mana saja dan kapan saja” seperti slogan layanan komunikasi. Apa sesungguhnya yang mereka cari, gonta-ganti pasangan layaknya baju bekas yang dijual di pasar murah. Habis manis sepah dibuang, sungguh kasihan. Tersirat dalam pikirku “Sungguh hanya menghabiskan banyak waktu pada hal-hal yang tidak berguna” . Tidakkah mereka malu kepada Rabb yang penjagaanya selalu “Standby” setiap saat. 

Terdapat pula opini masyarakat bahwa, hanya dengan pacaran merupakan sarana yang efektif ajang saling mengenal sebelum memasuki pintu pernikahan. Pacaran bukan satu-satunya jalan mengenali calon pendamping hidup, cukup saja sesi ta’aruf (perkenalan) atau minta keterangan lebih lanjut dari kerabatnya mengenai perilaku hidupnya sehari-hari. Jika sudah mantap maka nikahilah, insyaallah semua itu akan berbuah barakah. 

Seorang uztadzah pernah membeberkan kisah pernikahannya, beliau berkata : “Sentuhan pertama yang kudapat dari suamiku sungguh luar biasa, karena ini untuk pertama kalinya aku di sentuh oleh seorang laki-laki, sehingga “casnya” lebih dahsyat.” Sontak seluruh kaum hawa dibuatnya tertawa. Bagaimana tidak, kejadian tersebut untuk pertama kalinya beliau disentuh, sehingga rasa cinta terhadap suaminya semakin menguat. Secara otomatis sangat jauh berbeda dari pasangan yang berpacaran karena sentuhan maupun rabaan telah ia dapatkan sehingga hari-hari yang dilalui bersama pasangannya setelah pernikahan tinggal “ampas” nya saja. 

“Andaikata seorang lelaki kepalanya ditusuk dengan jarum besi, hal itu lebih baik daripada dia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabrani)

Akhwat dan ikhwan sekalian pasangan kita adalah cerminan dari karakter kita, logisnya kita menginginkan sesuatu yang lebih baik dari diri ini. Maka cobalah untuk menjadi pribadi yang bertakwa dan Allah akan mendatangkan pasangan yang menawan pula. 

“…dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik…” (QS. An-Nur : 26)

Namun perubahan anda jangan didasari oleh keinginan mendapatkan pasangan yang sholehah tetapi niat anda berubah karena Allah Azza Wa Jalla.

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan dari apa yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan dicapainya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan niat hijrahnya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ku tahu dalam hati-hati kalian menginginkan rasa itu dapat tersalurkan dan si dia yang engkau cintai dapat mengetahuinya. Namun ingatlah saudaraku cukuplah kau dan Allah yang mengetahuinya, cintai ia dengan diammu, Dia tahu semua yang kau inginkan tapi jagalah dirimu dari Naar yang menyala-nyala. Kalau kau merasa kesulitan melupakannya maka cobalah untuk menjauh darinya, carilah keburukan-keburukan pada dirinya (bukan maksud mencari aibnya, namun ini lebih kepada maslahat pribadi), sibukkan dirimu dengan rutinitas yang banyak seperti belajar, mengikuti kajian, serta kegiatan-kegitan positif lainnya, dan yang tidak kalah penting mintalah kemudahan kepada Allah Azza Wa Jalla.

Kalau ia adalah jodohmu maka Dia Yang Maha Kuasa mampu mempertemukanmu dengannya, jadi mengapa kamu mempermasalahkannya. Kalau pun tidak maka Allah yang lebih tahu mana yang terbaik, serahkan segala urusanmu kepadaNya. Cukuplah diri ini mengikuti bagaimana Rasulullah dalam bercinta dengan para istri-istrinya, beliau adalah suri tauladan yang baik. Jika engkau membaca kisah-kisah beliau bersama para istrinya sungguh akan membuatmu takjub, beliau tipikal seorang suami yang romantis contoh-contohnya banyak seperti menemani Aisyah mandi bersama, mengajaknya lomba lari, meminum air dari mulut mug yang sama, serta banyak kisah kemesraan lainnya. 

Setelah menikah kaupun bebas mendatangi pasanganmu dari mana saja yang kamu suka, tanpa harus berfikir dampak negatifnya ke depan. Segala yang kau jalani bersama si doi akan berbuah pahala bukan dosa, dan kau pun tidak merasa was was lagi jika memamerkan kemesraanmu. 

Bertawakkal dan berusaha untuk menjadi pribadi yang menawan jika waktu membahagiakan itu tiba, dan kemudian baru kau ucapkan ya Allah, aku jatuh cinta.

Maraji
Al-Quran
Bukunya Ibnu Qoyyim aduh lupa namanya :D